Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

KEJUJURAN

KEJUJURAN






(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)

Kejujuran harus ditanamkan sejak kecil. Untuk itu jelas dibutuhkan keteladanan orang tua dalam hal ini. Namun yang terjadi, tanpa disadari orang tua justru memposisikan diri sebagai guru dalam hal kebohongan atau ketidakjujuran.
Sebuah sisi yang kini banyak terlalaikan sepanjang perjalanan membimbing seorang anak adalah kejujuran. Kadang terjadi, orang tua tidak memberikan teguran ketika melihat si anak berbohong kepada temannya. Terkadang pula justru orang tua memberikan contoh buruk kepada si anak dengan berbuat dusta. Bahkan yang lebih parah lagi, orang tua menyuruh si anak untuk berbohong demi keuntungan atau kesenangan orang tuanya.
Mungkin tak asing lagi, orang tua yang tidak berkenan menerima seorang tamu yang datang untuk kepentingan tertentu, untuk berkelit dia berpesan kepada anaknya, “Katakan saja, ayah dan ibu sedang tidak ada di rumah.” Sementara dia bersembunyi di kamar tidurnya. Atau di waktu lain, sang ibu memanggil anaknya pulang bermain, “Ayo pulang, Nak! Ibu kasih kue nanti di rumah.” Ternyata sepulang bermain, tak sepotong kue pun diberikan. Juga terkadang orang tua menyuruh si anak melakukan sesuatu dengan iming-iming hadiah. Namun ketika si anak melaksanakan perintah orang tuanya, tak sesuatu pun yang didapat, atau bahkan kemarahan semata yang dihadapi bila si anak menagih janji. Alhasil, anak belajar berdusta dan ingkar janji justru dari orang tua mereka sendiri.
Kepada Allah U sajalah kita mohon pertolongan dari kerusakan semacam ini. Padahal semestinya orang tua membimbing, mengarahkan dan mengajarkan pada anak-anak untuk senantiasa jujur, dalam ucapan maupun perbuatan, serta menjauhi kedustaan dan ingkar janji.
Allah U memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar senantiasa berbuat jujur:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (At-Taubah: 119)
Jujurlah kalian dan berpeganglah selalu dengan kejujuran, niscaya kalian termasuk orang-orang yang jujur dan akan selamat dari kebinasaan, serta Allah U berikan kelapangan dan jalan keluar dalam berbagai urusan kalian. (Tafsir Ibnu Katsir 4/160)
Banyak sudah peringatan dari dusta yang disampaikan oleh Rasulullah n. Di antaranya beliau katakan bahwa dusta akan menggiring si pendusta untuk berbuat berbagai kejelekan. Demikian yang beliau kabarkan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud z:

“Sesungguhnya kejujuran membimbing pada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Dan seseorang senantiasa jujur dan membiasakan untuk jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta membimbing pada kejahatan, dan kejahatan akan membimbing ke neraka. Dan seorang hamba senantiasa berdusta dan membiasakan untuk dusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Al-Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2607)
Hadits mengandung anjuran agar seseorang berupaya membiasakan diri untuk jujur dan menjadikan kejujuran sebagai tujuan dan perhatiannya. Di samping itu, ada peringatan dari kedustaan dan sikap menggampangkan dusta, karena apabila seseorang biasa bermudah-mudah dalam dusta, maka dia akan sering berdusta hingga dikenal dengannya. Dan seseorang akan dicatat di sisi Allah U sebagai orang yang jujur bila dia membiasakannya, atau sebagai pendusta bila ia terbiasa dengannya. (Syarh Shahih Muslim 16/160)
Dinyatakan pula oleh Rasulullah n bahwa dusta termasuk ciri orang munafik, sebagaimana dikabarkan Abu Hurairah z:

“Tanda orang munafik itu ada tiga: bila bicara dia dusta, bila berjanji dia mengingkari, dan bila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Al-Bukhari no. 33 dan Muslim no. 107)
Berdusta demikian buruk akibatnya. Terlebih lagi berdusta pada anak-anak akan membuka pintu kejelekan yang luas, karena nantinya anak akan menirunya, hingga mereka biasa berbicara dusta dan mengingkari janjinya. (Nashihati lin Nisaa‘, hal. 40) Selain itu, anak akan kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya, sehingga nantinya mereka pun tidak lagi membenarkan orang tuanya dalam berbagai hal. (Fiqh Tarbiyatil Abna‘, hal 240)
Dengan gamblang Rasulullah n melarang seorang ibu berdusta kepada anaknya. Ini dikisahkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah Al-’Adawi z:


Suatu hari ibuku memanggilku, sementara Rasulullah r sedang duduk di rumah kami. Ibuku berkata, “Mari sini, aku akan memberimu sesuatu.” Rasulullah r pun bertanya pada ibuku, “Apa yang akan kau berikan padanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya kurma.” Lalu beliau berkata pada ibuku, “Seandainya engkau tidak memberinya sesuatu, niscaya dicatat atasmu sebuah kedustaan.” (HR. Abu Dawud no. 4991, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Kisah ini menunjukkan bahwa setiap perkataan yang ditujukan kepada anak-anak ketika mereka menangis misalnya, baik untuk bergurau atau untuk membohongi si anak bahwa nanti akan diberi sesuatu atau ditakut-takuti dengan sesuatu, adalah haram dan termasuk kedustaan.
Walaupun maksudnya sekedar untuk bergurau dan bercanda, seseorang tetap tidak diperbolehkan mengatakan sesuatu yang dusta, karena Rasulullah n mengancam orang yang berdusta dalam candanya, sebagaimana disampaikan oleh Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya:

Saya mendengar Nabi n bersabda: “Binasalah orang yang berbicara untuk membuat orang-orang tertawa dengan ucapannya, lalu dia berdusta. Binasalah dia, binasalah dia!” (HR. At-Tirmidzi no. 2315, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Dapat dipahami dari ucapan Rasulullah n ini, tidak mengapa bila seseorang membuat orang-orang tertawa dengan ucapan yang jujur. (Tuhfatul Ahwadzi 6/497)
Rasulullah n sendiri bukanlah orang yang tidak pernah bercanda. Namun canda beliau tidak pernah lepas dari kebenaran. Abu Hurairah z mengisahkan bahwa para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah n:

“Wahai Rasulullah, engkau bercanda dengan kami?” Maka beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali kebenaran.” (HR. At-Tirmidzi no. 1990, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Oleh karena itu, orang tua tidak boleh bergurau dengan gurauan yang dusta, juga harus melarang dan menegur apabila mengetahui anak-anak mereka bergurau dengan kata-kata yang dusta.
Kisah-kisah tentang kejujuran dapat pula diceritakan pada anak untuk memberikan gambaran kepada mereka bahwa kejujuran senantiasa akan membawa kebaikan. Sebuah kisah indah tentang kejujuran dituturkan oleh Ka’ab bin Malik z, ketika dia tertinggal dari perang Tabuk tanpa satu uzur pun, sementara segala perlengkapan perang telah dia persiapkan. Kisah ini tertulis di dalam Ash-Shahihain (HR. Al-Bukhari no. 4418 dan Muslim no. 2769)
Ka’ab bin Malik menceritakan, ketika ada kabar Rasulullah n sudah kembali dari peperangan itu, dia pun merasa gelisah. Terlintas dalam hatinya untuk berdusta kepada Rasulullah n untuk menghindari kemurkaan beliau. Namun Ka’ab yakin, dia tidak akan bisa selamat dari kemurkaan beliau selama-lamanya, hingga dia pun bertekad untuk berkata jujur.
Setiba dari peperangan, seperti kebiasaan Rasulullah n setiap pulang dari safar, beliau masuk masjid dan shalat dua rakaat. Setelah itu, orang-orang yang tidak ikut dalam peperangan mengajukan uzur masing-masing dan bersumpah di hadapan Rasulullah n. Beliau pun menerima pengakuan yang nampak dari mereka, membai’at dan memohonkan ampun bagi mereka dan menyerahkan isi hati mereka kepada Allah U.
Hingga datanglah Ka’ab. Ketika Rasulullah n bertanya tentang uzurnya, Ka’ab menyatakan, “Wahai Rasulullah, andaikan aku duduk di hadapan selainmu dari kalangan ahlu dunia, tentu aku berpikiran untuk dapat keluar dari kemarahannya dengan mengajukan suatu uzur, lagipula aku pandai berdebat. Akan tetapi, demi Allah, aku tahu, seandainya hari ini kukatakan padamu kebohongan yang membuatmu ridha padaku, sungguh Allah I akan membuatmu marah padaku. Dan bila kukatakan padamu perkataan jujur yang membuatmu marah padaku, sungguh dengan itu kuharapkan kesudahan yang baik dari Allah U. Demi Allah, aku tidak memiliki uzur apa pun. Demi Allah, tak pernah diriku sekuat dan semudah seperti saat aku tertinggal dari peperangan bersamamu.”    Rasulullah n pun bersabda, “Orang ini telah bicara jujur. Bangkitlah, sampai Allah berikan keputusan tentangmu.”
Waktu terus bergulir. Rasulullah n melarang setiap orang berbicara dengan Ka’ab dan dua orang shahabat lain yang diberi keputusan serupa. Dunia pun terasa sempit bagi Ka’ab. Tak ada seorang pun yang mau menyapanya. Siapa pun, di mana pun. Bahkan Rasulullah n pun enggan bertatap pandang dengannya.
Inilah yang harus dia jalani, hingga lima puluh malam lamanya. Keesokan harinya, usai shalat subuh di atas rumahnya, Ka’ab duduk sembari merasakan kesempitan hatinya. Tiba-tiba terdengar seseorang berseru padanya dari kejauhan, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!” Ka’ab pun tersungkur sujud. Dia tahu, kelapangan itu telah datang. Ternyata ketika shalat Subuh, Rasulullah n telah mengumumkan di hadapan para shahabat bahwa Allah I menerima taubat Ka’ab dan dua orang temannya. Orang-orang pun berdatangan menyatakan kegembiraannya.
Setelah itu, Ka’ab datang menghadap Rasulullah n. Beliau menyambut dengan wajah yang begitu bersinar bagai rembulan karena rasa gembira, “Bergembiralah dengan kebaikan yang kau dapat hari ini, semenjak engkau dilahirkan ibumu.” Ka’ab bertanya, “Apakah ini darimu, wahai Rasulullah, ataukah dari Allah?” “Tidak, bahkan ini dari Allah U.”
AllahU turunkan ayat 117-119 dari surat At-Taubah.
Saat itu Ka’ab mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamat-kanku dengan kejujuranku. Dan termasuk taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur seumur hidupku.”
Ka’ab menceritakan, “Demi Allah, aku tak pernah bersengaja bicara dusta semenjak kukatakan hal itu pada Rasulullah n sampai hari ini, dan sungguh aku berharap agar Allah U tetap menjagaku sepanjang sisa umurku.”
Dia juga mengatakan, “Demi Allah, tidaklah Allah memberikan nikmat pada diriku setelah memberikan petunjuk padaku untuk berislam, yang lebih besar daripada kejujuranku pada Rasulullah n, sehingga aku tidak berdusta pada beliau dan binasa seperti binasanya orang-orang yang berdusta.”
Inilah sebuah teladan yang memberikan pelajaran besar bagi anak untuk menanamkan kejujuran dalam dirinya, walaupun untuk mengakui kesalahan.
Demikianlah, tak ada jalan lain bagi orang tua, kecuali berbenah diri dengan mulai membiasakan untuk berkata dan berbuat jujur. Jujur terhadap Allah I dan jujur pula terhadap manusia, sehingga terus membiasakan diri untuk jujur setahap demi setahap sampai kejujuran itu menjadi akhlak kita, sebagaimana dalam hadits yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud z di atas.
Begitu pulalah pada anak, orang tua harus membiasakan anak-anaknya untuk jujur dalam ucapan, perbuatan maupun dalam penunaian janji, diiringi dengan upaya untuk menjauhkan mereka dari segala kedustaan. Semoga dengan itu, mereka akan menuai kebahagiaan di dunia ini dan di negeri yang kekal abadi. Wallahu a’lam.

Sabtu, 05 November 2011

SIFAT WAJIB ALLAH


1. Wujud (ada)

Allah itu Wujud (ada). Tidak mungkin/mustahil Allah itu ‘Adam (tidak ada).
Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.
Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih komplek.
Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 8 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya!
Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.
Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.
Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]
Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.
Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?
Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?
Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakkan benda tersebut di bawah mikroskop yang amat kuat).
Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada?
Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.
Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!
Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.
Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]
“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]
Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:
“Allah lah Yang meninggi-kan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia berse-mayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]
Artikel lengkap tentang Bukti Tuhan itu Ada dapat anda lihat di www.media-islam.or.id
Hikmah: Kunci Iman menyembah Allah. Kalau orang tidak mempercayai Allah itu ada, maka dia adalah Atheist. Tidak mungkin bisa ikhlas dan khusyu’ menyembah Allah.
2. Qidam (Terdahulu)
Allah itu Qidam (Terdahulu). Mustahil Allah itu Huduts (Baru).
“Dialah Yang Awal …” [Al Hadiid:3]
Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Allah yang menciptakan langit, bumi, serta seluruh isinya termasuk tumbuhan, binatang, dan juga manusia.
“Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu..?” [Al Mu'min:62]
Oleh karena itu, Allah adalah awal. Dia sudah ada jauh sebelum langit, bumi, tumbuhan, binatang, dan manusia lainnya ada. Tidak mungkin Tuhan itu baru ada atau lahir setelah makhluk lainnya ada.
Sebagai contoh, tidak mungkin lukisan Monalisa ada lebih dulu sebelum pelukis yang melukisnya, yaitu Leonardo Da Vinci. Demikian juga Tuhan. Tidak mungkin makhluk ciptaannya muncul lebih dulu, kemudian baru muncul Tuhan.
3. Baqo’ (Kekal)
Allah itu Baqo’ (Kekal). Tidak mungkin Allah itu Fana’ (Binasa).
Allah sebagai Tuhan Semesta Alam itu hidup terus menerus. Kekal abadi mengurus makhluk ciptaannya. Jika Tuhan itu Fana’ atau mati, bagaimana nasib ciptaannya seperti manusia?
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati…” [Al Furqon 58]
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [Ar Rahman:26-27]
Karena itu jika ada “Tuhan” yang wafat atau mati, maka itu bukan Tuhan. Tapi manusia biasa.
Hikmah: Jika kita mencintai Allah yang Maha Kekal dan selalu ada dan menjadikanNya teman serta pelindung, niscaya kita akan tetap sabar meski kehilangan segala yang kita cintai.
4. Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya)
Allah itu berbeda dengan makhlukNya (Mukhollafatuhu lil hawaadits). Mustahil Allah itu sama dengan makhlukNya (Mumaatsalaatuhu lil Hawaadits). Kalau sama dengan makhluknya misalnya sama lemahnya dengan manusia, niscaya “Tuhan” itu bisa mati dikeroyok atau disalib oleh manusia. Mustahil jika “Tuhan” itu dilahirkan, menyusui, buang air, tidur, dan sebagainya. Itu adalah manusia. Bukan Tuhan!
Allah itu Maha Besar. Maha Kuasa. Maha Perkasa. Maha Hebat. Dan segala Maha-maha yang bagus lainnya.
“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…” [Asy Syuura:11]
Misalnya sifat “Hidup” Allah beda dengan sifat “Hidup” makhluknya. Allah itu dari dulu, sekarang, kiamat, dan hingga hari akhirat nanti tetap hidup. Sebaliknya makhluknya seperti manusia dulu mati (tidak ada). Setelah itu baru dilahirkan dan hidup. Namun itu pun hanya sebentar. Paling lama 1000 tahun. Setelah itu mati lagi dan dikubur. Jadi meski sekilas sama, namun sifat “Hidup” Allah beda dengan makhlukNya.
Demikian juga dengan sifat lain seperti “Kuat.” Allah selalu kuat dan kekuatannya bisa menghancurkan alam semesta. Sementara manusia itu dulu ketika bayi lemah dan ketika mati juga tidak berdaya. Saat hidup pun jika kena tsunami atau gempa apalagi kiamat, dia akan mati.
5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya)
Allah itu Qiyamuhi Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya). Mustahil Allah itu Iftiqoorullah (Berhajat/butuh) pada makhluknya.
“.. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Al ‘Ankabuut:6]
“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” [Al Israa’ 111]
Di dunia ini, semua orang saling membutuhkan. Bahkan seorang raja pun butuh penjahit pakaian agar dia tidak telanjang. Dia butuh pembuat bangunan agar istananya bisa berdiri. Dia butuh tukang masak agar bisa makan. Dia butuh pengawal agar tidak mati dibunuh orang. Dia butuh dokter jika dia sakit. Saat bayi, dia butuh susu ibunya, dan sebagainya.
Sebaliknya Allah berdiri sendiri. Dia tidak butuh makhluknya. Seandainya seluruh makhluk memujiNya, niscaya tidak bertambah sedikitpun kemuliaanNya. Sebaliknya jika seluruh makhluk menghinaNya, tidaklah berkurang sedikitpun kemuliaanNya.
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [ Faathir 15]
Hikmah: Tidak sombong dan memohon hanya kepada Allah. Karena Manusia ketika lahir butuh bantuan. Demikian pula ketika mati meski dia kaya dan berkuasa
6. Wahdaaniyah (Esa)
Allah itu Wahdaaniyah (Esa/Satu). Mustahil Allah itu banyak (Ta’addud) seperti 2, 3, 4, dan seterusnya.
Allah itu Maha Kuasa. Jika ada sekutuNya, maka Dia bukan yang Maha Kuasa lagi. Jika satu Tuhan Maha Pencipta, maka Tuhan yang lain kekuasaannya terbatas karena bukan Maha Pencipta.
”Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan yang lain beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” [Al Mu’minuun:91]
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” [Al Ikhlas:1-4]
Oleh karena itu, ummat Islam harus menyembah Tuhan Yang Maha Esa/Satu, yaitu Allah. Tidak pantas bagi ummat Islam untuk menyembah Tuhan selain Allah seperti Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Roh Kudus. Tidak pantas juga bagi ummat Islam untuk menyembah 3 Tuhan di mana satu adalah yang Menciptakan, satu lagi yang merusak, dan terakhir yang memelihara.
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An Nisaa’:48]
Hikmah: Tidak mempersekutukan Allah
7. Qudrat (Kuasa)
Sifat Tuhan yang lain adalah Qudrat atau Maha Kuasa. Tidak mungkin Tuhan itu ‘Ajaz atau lemah. Jika lemah sehingga misalnya bisa ditangkap, disiksa, dan disalib, maka itu bukan Tuhan yang sesungguhnya. Hanya manusia biasa.
”… Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” [Al Baqarah:20]
”Jika Dia kehendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian tidak sulit bagi Allah.” [Fathiir:16-17]
Hikmah: menyadari kekuasaan Allah dan tawakal kepada Allah.
8. Iroodah (Berkehendak)
Sifat Allah adalah Iroodah (Maha Berkehendak). Allah melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Mustahil Allah itu Karoohah (Melakukan sesuatu dengan terpaksa).
“…Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” [Huud:107]
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]
“…Katakanlah : “Maka siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]
Hikmah: tawakal kepada Allah dan selalu berdoa kepada Allah
9. Ilmu (Mengetahui)
Allah itu berilmu (Maha Mengetahui). Mustahil Allah itu Jahal (Bodoh). Allah Maha Mengetahui karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu.
Sedangkan manusia tahu bukan karena menciptakan, tapi sekedar melihat, mendengar, dan mengamati. Itu pun terbatas pengetahuannya sehingga manusia tetap saja tidak mampu menciptakan meski hanya seekor lalat.
“Dan Allah memiliki kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]
“Katakanlah: Sekiranya lautan jadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu.” [Al Kahfi:109]
“Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’:176]
10. Hayaat (Hidup)
Allah itu Hayaat (Maha Hidup). Tidak mungkin Tuhan itu Maut (Mati). Jika Tuhan mati, maka bubarlah dunia ini. Tidak patut lagi dia disembah. Maha Suci Allah dari kematian/wafat.
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup kekal Yang tidak mati…” [Al Furqaan:58]
11. Sama’ (Mendengar)
Allah bersifat Sama’ (Maha Mendengar). Mustahil Tuhan bersifat Shomam (Tuli).
Allah Maha Mendengar. Mustahil Allah tuli.
“… Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:256]
12. Bashor (Melihat)
Allah bersifat Melihat. Mustahil Allah itu ‘Amaa (Buta).
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Hujuraat:18]
Hikmah: takut berbuat dosa karena Allah selalu melihat kita
Lebih jauh tentang Sifat Bashor bisa anda lihat di:
13. Kalam
Allah bersifat Kalam (Berkata-kata). Mustahil Allah itu Bakam (Bisu)
“…Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” [An Nisaa’ 164]
Jika kita meyakini ini, tentu kita tidak akan menyembah berhala yang tidak bisa bicara sebagai Tuhan [Al Anbiyaa’ 63-65]
Demikianlah sifat-sifat Allah yang penting yang wajib kita ketahui agar kita tahu mana Tuhan yang asli dan mana yang bukan.
Jika sifat-sifat Tuhan itu kita pahami dan yakini, niscaya kita tidak akan menyembah 3 Tuhan atau Tuhan yang Mati atau Tuhan yang Lemah, dan sebagainya. Kita hanya mau menyembah Allah yang memiliki sifat-sifat di atas dengan sempurna.
Ada pun sifat-sifat ke 14-20 sesungguhnya merupakan bentuk Subyektif/Pelaku dari Sifat nomor 7-13 yaitu:
14. Qoodirun: Yang Memiliki sifat Qudrat
15. Muriidun: Yang Memiliki Sifat Iroodah
16. ‘Aalimun: Yang Mempunyai Ilmu
17. Hayyun: yang Hidup
18. Samii’un: Yang Mendengar
19. Bashiirun: Yang Melihat
20. Mutakallimun: Yang Berkata-kata
Insya Allah semua sifat-sifat Allah itu berdasarkan dalil Al Qur’an yang kuat jadi harus kita yakini kebenarannya. Ilmu Tauhid ini begitu penting. Sebab itu cetaklah dan sebarkanlah pada keluarga dan teman-teman anda untuk memperkuat aqidah mereka.

ASMAUL HUSNAH

ASMAUL HUSNAH

1     Ar Rahman     الرحمن     Maha Pemurah
2     Ar Rahiim     الرحيم     Maha Penyayang
3     Al Malik     الملك     Maha Merajai/Memerintah
4     Al Quddus     القدوس     Maha Suci
5     As Salaam     السلام     Maha Memberi Kesejahteraan
6     Al Mu`min     المؤمن     Maha Memberi Keamanan
7     Al Muhaimin     المهيمن     Maha Pemelihara
8     Al `Aziiz     العزيز     Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
9     Al Jabbar     الجبار     Maha Perkasa
10     Al Mutakabbir     المتكبر     Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11     Al Khaliq     الخالق     Maha Pencipta
12     Al Baari`     البارئ     Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13     Al Mushawwir     المصور     Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
14     Al Ghaffaar     الغفار     Maha Pengampun
15     Al Qahhaar     القهار     Maha Memaksa
16     Al Wahhaab     الوهاب     Maha Pemberi Karunia
17     Ar Razzaaq     الرزاق     Maha Pemberi Rejeki
18     Al Fattaah     الفتاح     Maha Pembuka Rahmat
19     Al `Aliim     العليم     Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20     Al Qaabidh     القابض     Maha Menyempitkan (makhluknya)
21     Al Baasith     الباسط     Maha Melapangkan (makhluknya)
22     Al Khaafidh     الخافض     Maha Merendahkan (makhluknya)
23     Ar Raafi`     الرافع     Maha Meninggikan (makhluknya)
24     Al Mu`izz     المعز     Maha Memuliakan (makhluknya)
25     Al Mudzil     المذل     Maha Menghinakan (makhluknya)
26     Al Samii`     السميع     Maha Mendengar
27     Al Bashiir     البصير     Maha Melihat
28     Al Hakam     الحكم     Maha Menetapkan
29     Al `Adl       العدل     Maha Adil
30     Al Lathiif     اللطيف     Maha Lembut
31     Al Khabiir     الخبير     Maha Mengetahui Rahasia
32     Al Haliim     الحليم     Maha Penyantun
33     Al `Azhiim     العظيم     Maha Agung
34     Al Ghafuur     الغفور     Maha Pengampun
35     As Syakuur     الشكور     Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36     Al `Aliy      العلى     Maha Tinggi
37     Al Kabiir     الكبير     Maha Besar
38     Al Hafizh     الحفيظ     Maha Menjaga
39     Al Muqiit     المقيت     Maha Pemberi Kecukupan
40     Al Hasiib     الحسيب     Maha Membuat Perhitungan
41     Al Jaliil      الجليل     Maha Agung
42     Al Kariim     الكريم     Maha Mulia
43     Ar Raqiib     الرقيب     Maha Mengawasi
44     Al Mujiib     المجيب     Maha Mengabulkan
45     Al Waasi`     الواسع     Maha Luas
46     Al Hakiim     الحكيم     Maha Bijaksana
47     Al Waduud     الودود     Maha Pencinta
48     Al Majiid     المجيد     Maha Mulia
49     Al Baa`its     الباعث     Maha Membangkitkan
50     As Syahiid     الشهيد     Maha Menyaksikan
51     Al Haqq     الحق     Maha Benar
52     Al Wakiil     الوكيل     Maha Memelihara
53     Al Qawiyyu     القوى     Maha Kuat
54     Al Matiin     المتين     Maha Kokoh
55     Al Waliyy     الولى     Maha Melindungi
56     Al Hamiid     الحميد     Maha Terpuji
57     Al Mushii     المحصى     Maha Mengkalkulasi
58     Al Mubdi`     المبدئ     Maha Memulai
59     Al Mu`iid     المعيد     Maha Mengembalikan Kehidupan
60     Al Muhyii     المحيى     Maha Menghidupkan
61     Al Mumiitu     المميت     Maha Mematikan
62     Al Hayyu     الحي     Maha Hidup
63     Al Qayyuum     القيوم     Maha Mandiri
64     Al Waajid     الواجد     Maha Penemu
65     Al Maajid     الماجد     Maha Mulia
66     Al Wahiid     الواحد     Maha Tunggal
67     Al `Ahad     الاحد     Maha Esa
68     As Shamad     الصمد     Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69     Al Qaadir     القادر     Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70     Al Muqtadir     المقتدر     Maha Berkuasa
71     Al Muqaddim     المقدم     Maha Mendahulukan
72     Al Mu`akkhir     المؤخر     Maha Mengakhirkan
73     Al Awwal     الأول     Maha Awal
74     Al Aakhir     الأخر     Maha Akhir
75     Az Zhaahir     الظاهر     Maha Nyata
76     Al Baathin     الباطن     Maha Ghaib
77     Al Waali     الوالي     Maha Memerintah
78     Al Muta`aalii     المتعالي     Maha Tinggi
79     Al Barri      البر     Maha Penderma
80     At Tawwaab     التواب     Maha Penerima Tobat
81     Al Muntaqim     المنتقم     Maha Penyiksa
82     Al Afuww     العفو     Maha Pemaaf
83     Ar Ra`uuf     الرؤوف     Maha Pengasih
84     Malikul Mulk     مالك الملك     Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85     Dzul Jalaali Wal Ikraam     ذو الجلال و الإكرام     Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86     Al Muqsith     المقسط     Maha Adil
87     Al Jamii`     الجامع     Maha Mengumpulkan
88     Al Ghaniyy     الغنى     Maha Berkecukupan
89     Al Mughnii     المغنى     Maha Memberi Kekayaan
90     Al Maani     المانع     Maha Mencegah
91     Ad Dhaar     الضار     Maha Memberi Derita
92     An Nafii`     النافع     Maha Memberi Manfaat
93     An Nuur     النور     Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94     Al Haadii     الهادئ     Maha Pemberi Petunjuk
95     Al Baadii     البديع     Maha Pencipta
96     Al Baaqii     الباقي     Maha Kekal
97     Al Waarits     الوارث     Maha Pewaris
98     Ar Rasyiid     الرشيد     Maha Pandai
99     As Shabuur     الصبور     Maha Sabar